Nama : Eva Susanti Sianturi
NIM :
1470750020
Keadaan
Pendidikan di Pakistan.
Pakistan adalah sebuah
negara berkembang di Asia Selatan dimana keadaan pendidikan di Pakistan cukup
menyedihkan. Di Paksitan tingkat pedaftaran pendidikan dasar hanya 46%
merupakan tingkat yang paling rendah di Asia Selatan dan sebanyak 13 juta
anak-anak yang tidak bersekolah di Paksitan dari 50 juta anak-anak ( berusia
5-9 tahun). Keadaan pendidikan yang memprihatinkan di Pakistan juga disebabkan
karena masih adanya konflik yang terjadi Pakistan serta kemiskinan merupakan
faktor yang utama. Di Pakistan anak-anak perempuan keberadaannya dalam
pendidikan masih sangat minim, hal ini disebabkan dimana kurangnya fasilitas
pendidikan perempuan bagi anak-anak perempuan di Pakistan. Kebanyakan anak-anak
perempuan di Pakistan mempunyai akses yang terbatas terhadap pendidikan.
Kesenjagan keberadaan anak-anak perempuan di Paksitan juga disebabkan adanya
pemikiran dari orang tua anak-anak yang berada di Pakistan, bahwa mereka
menggangap bahwa memeberikan pendidikan serta menyekolahkan anak-anak perempuan
merupakan hal pemberosan bagi mereka. di daerah pedesaan akses anak-anak
perempuan di Pakistan sangat terbatas. Orang tua dari anak-anak Pakistan juga
beranggapan jika anak mereka yang perempuan bersekolah, maka anak perempuan
mereka harus diajar oleh guru perempuan, sementara keberdaan guru perempuan di
Paksitan sangat terbatas, dimana guru-guru di Pakistan didominasi oleh guru
laki-laki. Banyaknya anak-anak perempuan di Paksitan tidak bersekolah
dikarenakan banyak anak-anak perempuan tersebut ketika masih berada dibawah
umur mereka harus sudah bekerja untuk membantu orang tua mereka, karena
keterbatasan perekonomian mereka. banyak juga anak-anak perempuan tersebut yang
bekerja dibidang pertanian, membawa makanan keladang, serta menjaga adik-adik
mereka jika ibu mereka sedang pergi bekerja. [1]
Kemiskinan merupakan penyebab utama
kesenjangan gender dalam pendidikan di Paksitan. Ketika keluarga miskin merasa terpaksa untuk
membuat pilihan antara mendidik anak laki-laki atau anak perempuan mereka, anak
perempuan sering kali ditinggalkan. Anak laki-laki kadang dipandang sebagai
investasi yang lebih baik karena ia nantinya akan menopang keluarga, sedangkan
anak perempuan mungkin akan segera dinikahi.
Seperti yang kita ketahui ada sebuah anak perempuan yang bernama Malala
Yousafzai yang merupakan toko pejuang pendidikan dari Pakistan yang
memperjuangkan peran kaum perempuan dibidang pendidikan khususnya anak-anak
perempuan yang harus diberikan hak bisa bersekolah juga seperti anak-anak
lainnya. Malala menuliskan sebuah tulisan yang mencertikan bagaiman keadaan
mereka yang berada dibawah penekanan Taliban, dimana Taliban senidir tidak
memperbolehkan anak-anak perempuan untuk bersekolah. Pada saat dibawah rezim
Zia keadaan perempuan sangat terbatas, ada contoh kasusnya yaitu penjara-penjara
di Paksitan penuh dengan anak-anak perempuan berusia tiga belas tahun yang
diperkosa dan hamil, tetapi anak-anak perempuan tersebut malah di jebloskan ke
penjara karena tuduhan perzinaan,dan karena anak-anak perempuan tersebut tidak
dapat mendatangkan empat saksi laki-laki untuk membuktikan kejahatan yang telah
terjadi kepada anak-anak perempuan tersebut.[2]
Di Pakistan bukan hanya anak-anak
perempuan saja yang susah dalam mendapatkan akes pendidikan di Pakistan. BBC
melaporkan dan mengungkap sebuah kasus penyiksaan yang terjadi pada anak-anak
Madrasah di Pakistan dan sekitar 50 pelajar diebaskan dari Madrasah Karachi,
Pakistan. Pelajar tersebut diperkirakan berusia 12 tahun dimana mereka
mengalami penyiksaan serta tidak diberikan makanan. Anak-anak tersebut mengakui
bahwa mereka disiksa sampai dengan 200 kali, dan jika para pelajar tersebut
berusaha ingin kabur dari Madrsah tersebut maka mereka akan diancam dan akan
dikirim untuk berjihad dan dicambuk sebanyak 200 kali. Mereka kerap di pukul
menggunakan tongkat, dan mereka dipaksa belajar dalam satu harian tanpa
diberikan makanan dan pakain yang layak, bahkan anak-anak tersebut beranggapan
bahwa mereka bersekolah di Madrasah tersebut nantinya mereka akan menjadi
anggota tempur Taliban. Peljara tersebut mengatakan hal seperti itu karena
pelajar tersebut pernah melihat anggota Taliban datang ke Madrasah mereka dan
mengatakan untuk mempersiapkan pasukan perang dari antara merkera.
orang tua membayar biaya pendidikan anak-anak mererka yang bersekolah di Madrash
tersebut supaya anak-anak mereka dapat bersekolah di Madrasah tersebut. ,
dimana anak-anak mereka mengalami kecanduan narkoba serta kejahatan. Hal yang
paling menyedihkan ialah dimana sebelum anak-anak mereka diserahkan ke
Madrasah, para orang tua tersebut menyediakan rantai untuk menahan anak-anak
mereka supaya tidak kabur dari Madrasah. orang tua para pelajar tersebut
mengatahui bahwa anak-anak mereka disiksa di Madrasah, justru orang tua
tersebut beranggapan bahwa dengan cara anak-anak mereka di didik dengan cara
kekersan, maka anak-anak mereka akan berubah dan tidak lagi menggunakan narkoba.
Hal yang paling menyedihkan lagi di Pakistan, dimana ada berlaku bahwa setiap
sekolah negeri di Pakistan bahwa setiap anak belajar dengan menghafal saja
serta dilarang bertanya.[3]
kesimpulan
pendidikan di Pakistan keadaannya
memang masih sangat memprihatinkan. Pemikiran para orang tua di Pakistan, serta
kemiskinan merupakan salah satu penghambat bagi majunya pendidikan di Pakistan.
Masih banyak anak-anak perempuan yang di Pakistan yang belum bisa mendapatkan
bangku pendidikan secara layak. Di Pakistan sendiri masih terjadi kasus
penyiksaan terhadap anak-anak di Madrasah, bahkan yang paling menyedihkan ialah
dimana para orang tua mereka tahu kalau anak mereka disiksa di Madrasah, tetapi
orang tua tersebut membiarkan karena orang tua anak-anak yang di Pakistan
beranggapan bahwa dengan cara anak-anak mereka disiksa maka anak-anak mereka
bisa berubah menjadi anak yang lebih baik dan disiplin, dan yang menghambat
pendidikan anak-anak perempuan di Pakistan juga disebabkan oleh Taliban, karena
Taliban beranggapan bahwa perempuan tidak usah bersekolah.
[1] Diakses
dari: http://www.idp-europe.org/eenet-asia/eenet-asia-2-ID/page24.php
pada tanggal 01 desember pukul 11:27 WIB.
[2] Malala
Yousafzai, Christina Lamb, I Am Malala,
PT Mizan Pustaka, Bandung, hal 39
[3] Diakses
dari: http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2011/12/111212_pakistanmadrasah.shtml, pada tanggal 01 Desember pukul 09:46 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar