My Widget

Minggu, 27 Maret 2016

Pendidikan di Pakistan

Nama : Eva Susanti Sianturi
NIM   : 1470750020

Keadaan Pendidikan di Pakistan.

Pakistan adalah sebuah negara berkembang di Asia Selatan dimana keadaan pendidikan di Pakistan cukup menyedihkan. Di Paksitan tingkat pedaftaran pendidikan dasar hanya 46% merupakan tingkat yang paling rendah di Asia Selatan dan sebanyak 13 juta anak-anak yang tidak bersekolah di Paksitan dari 50 juta anak-anak ( berusia 5-9 tahun). Keadaan pendidikan yang memprihatinkan di Pakistan juga disebabkan karena masih adanya konflik yang terjadi Pakistan serta kemiskinan merupakan faktor yang utama. Di Pakistan anak-anak perempuan keberadaannya dalam pendidikan masih sangat minim, hal ini disebabkan dimana kurangnya fasilitas pendidikan perempuan bagi anak-anak perempuan di Pakistan. Kebanyakan anak-anak perempuan di Pakistan mempunyai akses yang terbatas terhadap pendidikan. Kesenjagan keberadaan anak-anak perempuan di Paksitan juga disebabkan adanya pemikiran dari orang tua anak-anak yang berada di Pakistan, bahwa mereka menggangap bahwa memeberikan pendidikan serta menyekolahkan anak-anak perempuan merupakan hal pemberosan bagi mereka. di daerah pedesaan akses anak-anak perempuan di Pakistan sangat terbatas. Orang tua dari anak-anak Pakistan juga beranggapan jika anak mereka yang perempuan bersekolah, maka anak perempuan mereka harus diajar oleh guru perempuan, sementara keberdaan guru perempuan di Paksitan sangat terbatas, dimana guru-guru di Pakistan didominasi oleh guru laki-laki. Banyaknya anak-anak perempuan di Paksitan tidak bersekolah dikarenakan banyak anak-anak perempuan tersebut ketika masih berada dibawah umur mereka harus sudah bekerja untuk membantu orang tua mereka, karena keterbatasan perekonomian mereka. banyak juga anak-anak perempuan tersebut yang bekerja dibidang pertanian, membawa makanan keladang, serta menjaga adik-adik mereka jika ibu mereka sedang pergi bekerja. [1]
Kemiskinan merupakan penyebab utama kesenjangan gender dalam pendidikan di Paksitan.  Ketika keluarga miskin merasa terpaksa untuk membuat pilihan antara mendidik anak laki-laki atau anak perempuan mereka, anak perempuan sering kali ditinggalkan. Anak laki-laki kadang dipandang sebagai investasi yang lebih baik karena ia nantinya akan menopang keluarga, sedangkan anak perempuan mungkin akan segera dinikahi.  Seperti yang kita ketahui ada sebuah anak perempuan yang bernama Malala Yousafzai yang merupakan toko pejuang pendidikan dari Pakistan yang memperjuangkan peran kaum perempuan dibidang pendidikan khususnya anak-anak perempuan yang harus diberikan hak bisa bersekolah juga seperti anak-anak lainnya. Malala menuliskan sebuah tulisan yang mencertikan bagaiman keadaan mereka yang berada dibawah penekanan Taliban, dimana Taliban senidir tidak memperbolehkan anak-anak perempuan untuk bersekolah. Pada saat dibawah rezim Zia keadaan perempuan sangat terbatas, ada contoh kasusnya yaitu penjara-penjara di Paksitan penuh dengan anak-anak perempuan berusia tiga belas tahun yang diperkosa dan hamil, tetapi anak-anak perempuan tersebut malah di jebloskan ke penjara karena tuduhan perzinaan,dan karena anak-anak perempuan tersebut tidak dapat mendatangkan empat saksi laki-laki untuk membuktikan kejahatan yang telah terjadi kepada anak-anak perempuan tersebut.[2]
Di Pakistan bukan hanya anak-anak perempuan saja yang susah dalam mendapatkan akes pendidikan di Pakistan. BBC melaporkan dan mengungkap sebuah kasus penyiksaan yang terjadi pada anak-anak Madrasah di Pakistan dan sekitar 50 pelajar diebaskan dari Madrasah Karachi, Pakistan. Pelajar tersebut diperkirakan berusia 12 tahun dimana mereka mengalami penyiksaan serta tidak diberikan makanan. Anak-anak tersebut mengakui bahwa mereka disiksa sampai dengan 200 kali, dan jika para pelajar tersebut berusaha ingin kabur dari Madrsah tersebut maka mereka akan diancam dan akan dikirim untuk berjihad dan dicambuk sebanyak 200 kali. Mereka kerap di pukul menggunakan tongkat, dan mereka dipaksa belajar dalam satu harian tanpa diberikan makanan dan pakain yang layak, bahkan anak-anak tersebut beranggapan bahwa mereka bersekolah di Madrasah tersebut nantinya mereka akan menjadi anggota tempur Taliban. Peljara tersebut mengatakan hal seperti itu karena pelajar tersebut pernah melihat anggota Taliban datang ke Madrasah mereka dan mengatakan untuk mempersiapkan pasukan perang dari antara merkera.
 orang tua membayar biaya pendidikan  anak-anak mererka yang bersekolah di Madrash tersebut supaya anak-anak mereka dapat bersekolah di Madrasah tersebut. , dimana anak-anak mereka mengalami kecanduan narkoba serta kejahatan. Hal yang paling menyedihkan ialah dimana sebelum anak-anak mereka diserahkan ke Madrasah, para orang tua tersebut menyediakan rantai untuk menahan anak-anak mereka supaya tidak kabur dari Madrasah. orang tua para pelajar tersebut mengatahui bahwa anak-anak mereka disiksa di Madrasah, justru orang tua tersebut beranggapan bahwa dengan cara anak-anak mereka di didik dengan cara kekersan, maka anak-anak mereka akan berubah dan tidak lagi menggunakan narkoba. Hal yang paling menyedihkan lagi di Pakistan, dimana ada berlaku bahwa setiap sekolah negeri di Pakistan bahwa setiap anak belajar dengan menghafal saja serta dilarang bertanya.[3]
kesimpulan
pendidikan di Pakistan keadaannya memang masih sangat memprihatinkan. Pemikiran para orang tua di Pakistan, serta kemiskinan merupakan salah satu penghambat bagi majunya pendidikan di Pakistan. Masih banyak anak-anak perempuan yang di Pakistan yang belum bisa mendapatkan bangku pendidikan secara layak. Di Pakistan sendiri masih terjadi kasus penyiksaan terhadap anak-anak di Madrasah, bahkan yang paling menyedihkan ialah dimana para orang tua mereka tahu kalau anak mereka disiksa di Madrasah, tetapi orang tua tersebut membiarkan karena orang tua anak-anak yang di Pakistan beranggapan bahwa dengan cara anak-anak mereka disiksa maka anak-anak mereka bisa berubah menjadi anak yang lebih baik dan disiplin, dan yang menghambat pendidikan anak-anak perempuan di Pakistan juga disebabkan oleh Taliban, karena Taliban beranggapan bahwa perempuan tidak usah bersekolah.




[1] Diakses dari:  http://www.idp-europe.org/eenet-asia/eenet-asia-2-ID/page24.php pada tanggal 01 desember pukul 11:27 WIB.


[2] Malala Yousafzai, Christina Lamb, I Am Malala, PT Mizan Pustaka, Bandung, hal 39
[3] Diakses dari: http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2011/12/111212_pakistanmadrasah.shtml, pada tanggal 01 Desember pukul 09:46 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar